Demi masa {1} Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian {2} kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran {3} (Q.S Al-Ashr ayat 1-3) . Haruskah Ikut Tarbiyah ? ~ ROHIS SMANTIG

Tuesday, March 13, 2012

Haruskah Ikut Tarbiyah ?

assalaamu’alaikum wr. wb.

“Haruskah saya mengikuti tarbiyah?” seorang teman bertanya pada saya.

Karena tarbiyah sendiri maknanya adalah seputar pendidikan, pengembangan, peningkatan, dan pemeliharaan, maka jawabannya tentu saja : ya! 

“Apakah saya harus mengikuti sebuah halaqah?”

Kalau ditanya harus-tidaknya dari segi fiqih, tentu saja tidak harus.  Mengikuti sebuah halaqah belum tentu membawa kita ke surga, dan tidak menggabungkan diri ke dalam halaqah pun belum tentu menjerumuskan kita ke neraka.  Tapi kalau kita menghitung-hitung manfaatnya, maka saya akan sangat merekomendasikan setiap orang untuk aktif dalam sebuah halaqah.

“Jadi kamu mengharuskan semua orang untuk bergabung dalam Jamaah Tarbiyah, lantas semua yang tidak ikut bisa dikategorikan berdosa, begitu?”

Lho, kok jadi begitu?

* * * * * * *

Kadang-kadang orang salah kaprah dan gagal membedakan antara tarbiyah dan Jamaah Tarbiyah.  Orang juga seringkali mengidentikkan halaqah dengan Jamaah Tarbiyah, padahal tidak mesti demikian.

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, tarbiyah itu sendiri adalah sebuah proses pendidikan atau pembelajaran.  Sebuah perjalanan yang tidak mungkin berhenti sebelum Anda disapa oleh Malaikat Maut.  Yang namanya belajar, tentu saja, tidak terbatas tempatnya dimana.  Anda belajar di sekolah, di kampus, di forum-forum diskusi, di milis-milis, itu pun bagian dari usaha Anda men-tarbiyah diri sendiri.  Dan diam-diam, saya pun berharap tulisan-tulisan saya di sini juga bisa memberikan efek tarbiyah, meski sedikit.

Tarbiyah tidak identik dengan Jamaah Tarbiyah.  Organisasi Islam mana pun bisa (dan semestinya sih) men-tarbiyah anggotanya.  Kalau tidak ada proses tarbiyah dalam organisasi Islam tersebut, maka akan terjadi dua kebodohan : (1) organisasi itu sendiri bodoh karena tidak mau memiliki kader yang terdidik, dan (2) kadernya pun bodoh karena mau-maunya memasuki organisasi yang tidak membuatnya lebih cerdas. 

Tarbiyah adalah suatu proses yang seharusnya terjadi di mana-mana, bahkan tidak perlu ada organisasi resmi apa pun untuk melakukannya.  Jika ada beberapa orang Muslim berkumpul dan berbincang-bincang, maka seharusnya mereka bisa mendapat banyak pelajaran.  Langkah untuk mencari teman diskusi yang bermanfaat adalah bagian dari proses tarbiyah yang Anda lakukan untuk diri sendiri.

Halaqah pun sama sekali bukan merupakan hak milik Jamaah Tarbiyah.  Sekelompok Muslim dari mana pun bisa berinisiatif membentuk sebuah halaqah tanpa harus terikat dengan organisasi mana pun.  Katakanlah, halaqah dengan teman-teman di rumah kost.  Apa salahnya?  Mungkin Anda khawatir karena merasa pengetahuan agamanya masih rata-rata saja, tapi bukan berarti Anda tidak akan mendapat manfaat dari halaqah semacam itu.  Sedikit itu lebih baik daripada tidak sama sekali, bukan?  Lagipula, Anda tidak harus menamakannya 'halaqah'.  Sebut saja 'nongkrong bermanfaat', boleh juga 'kan?

Saya menjadi heran bagaimana orang menjadi begitu alergi mendengar nama ‘halaqah’ dan ‘tarbiyah’ karena berbagai pikiran buruk di kepala mereka terhadap Jamaah Tarbiyah.  Marilah kita melihat faktanya saja.  Fakta pertama, tarbiyah memang mutlak diperlukan.  Organisasi perlu melakukannya karena kader yang terdidik selalu dibutuhkan, dan kader pun berhak memperoleh pendidikan dari organisasinya.  Fakta kedua, pembentukan halaqah yang berkumpul secara rutin dan membahas masalah-masalah keislaman adalah sebuah cara yang amat efektif dalam melakukan tarbiyah dan menjaga kesolidan kader.  Jadi, apa masalahnya?

Sebenarnya antarorganisasi Islam tidak perlu merasa saling dengki.  Kalau ada yang benar, yakinlah bahwa itu berasal dari Allah.  Kalau metode halaqah berhasil baik bagi Jamaah Tarbiyah, lantas mengapa tidak ada yang meniru kesuksesan ini?  Bukankah kalau umat Islam maju – apa pun organisasinya – kita semua akan senang?  Mengapa harus memelihara rasa dengki dan memperparahnya dengan gengsi yang menggunung?

Terus terang, saya merasa kecewa dengan beberapa organisasi Islam raksasa di Indonesia ini, lantaran mereka tidak juga belajar dari fenomena tarbiyah ini.  Mereka memiliki massa yang amat besar (malah sebagian cenderung fanatik), tapi mereka sedikit sekali mengambil kesempatan untuk men-tarbiyah para kadernya.  Akhirnya, kader-kadernya harus belajar sendiri-sendiri, dan secara objektif, sedikit sekali manfaat yang bisa mereka dapatkan dari organisasi yang dibelanya habis-habisan itu.

Saya juga melihat ada sebagian petinggi dari organisasi-organisasi Islam raksasa tadi yang merasa frustasi lantaran massanya tersedot oleh Jamaah Tarbiyah.  Mereka sibuk mencari-cari kesalahan orang lain, padahal yang salah adalah dirinya sendiri.  Seharusnya mereka tahu bahwa kader-kadernya juga manusia yang berakal, mampu berpikir, dan cenderung pada kebaikan.  Mereka juga berhak memilih komunitas di mana mereka bisa memperoleh manfaat paling besar.  Kalau Jamaah Tarbiyah sibuk habis-habisan men-tarbiyah para kadernya, maka jangan heran kalau banyak orang lebih suka menggabungkan diri dengannya daripada dengan organisasi-organisasi lainnya.  Siapa sih yang tidak mau mendapat banyak ilmu?

Jika saya menyarankan diadakannya tarbiyah dan dibentuknya halaqah-halaqah, maka itu sama sekali tidak berarti saya berpihak pada Jamaah Tarbiyah dan mengesampingkan yang lain.  Saya hanya ingin bilang bahwa tarbiyah itu penting dan halaqah adalah sebuah sarana yang amat efektif dalam melaksanakannya.  Menurut saya pribadi, setiap organisasi Islam seharusnya menggunakan pola pikir semacam ini.  Metode ini sama sekali bukan milik Jamaah Tarbiyah.  Tidak ada hak patennya, alias purely open-source!!!

Perlu saya tekankan kembali bahwa pola ini baik untuk digunakan oleh setiap organisasi Islam, tidak terkecuali pengurus DKM, klub-klub penulisan seperti FLP, atau kelompok belajar Islami.  Bahkan kalau Anda membentuk sebuah klub sepakbola pun, maka pola semacam ini dijamin bisa mempersolid tim Anda.

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Sumber : www.akmal.multiply.com

0 comments:

Post a Comment